Farhan Bertekad Mengejar Ketertinggalannya

originals.id – Tentu, ada tantangan tersendiri ketika menghadapi buah hati yang kematangan jiwanya tidak sesuai dengan usia. “Jujur saja, terkadang ada rasa letih. Namun saya berusaha sekuat tenaga agar Farhan mampu mengejar ketertinggalannya,” begitu tekad sang mama, Oryza Noverita Tristani (39).

Tampak Normal Hingga Usia 3 Tahun

“Anak saya, Farhan Arianto (10) dilahirkan normal. Bahkan waktu keluar rumah sakit tidak ada catatan khusus yang patut dicurigai. Tak ada masalah, hanya perkembangan bicaranya memang agak lambat. Saya pikir hal itu biasa. Ketika usia 4 tahun, saya ikutkan Farhan trial di sebuah TK. Waktu di TK itu, saat masuk kelas ia bersembunyi di pojokan, tidak mau duduk tenang, dan tidak mau mengerjakan tugas yang diperintahkan.

Kadang dia marah dan mengamuk. Saat bicara, ia tidak mau menatap muka, kecuali saya memegangi wajahnya agar ia mau menatap. Menurut guru di TK itu Farhan adalah anak berkebutuhan khusus. Saya sedih dan tak bisa menerimanya. Saat membicarakan hal ini pada suami, saya akhirnya berusaha menerimanya. Saya kemudian berhenti bekerja untuk bisa lebih fokus menangani Farhan. Farhan disarankan masuk ke sekolah khusus dan menjalani terapi. Sekolah tersebut ternyata sekolah untuk anak autisme dan ADHD.

Saya pikir Farhan bukan anak autisme. Jika saya masukkan ke sana, nanti malah ia terpengaruh. Saya akhirnya mengeluarkan Farhan dari TK tersebut dan saya ikutkan dia ke tempat terapi. Di sana ia diajarkan untuk bisa duduk tenang, belajar bermain, konsentrasi, dan belajar seperti anak TK, seperti menggambar garis, mengerjakan pasel kecil hingga besar, mewarnai, dan sebagainya. Farhan terapi dua kali seminggu masing-masing satu jam.”

Masuk Sd Umum

“Di usia 5 tahun, bicara Farhan sudah agak lancar namun belum bisa mengungkapkan keinginannya dengan baik. Jika diberi tugas di sekolah, dia akan mengerjakan semaunya saja. Kalau mau, ya.. dikerjakan. Kalau tidak, ya tidak dikerjakan. Jika ada yang tidak sesuai keinginan, Farhan bisa marah-marah, menangis, dan teriak-teriak. Adakalanya kepala sekolahnya turun tangan membujuk sampai Farhan mau diam dan mengerjakan tugasnya. Rutinitas yang dia lakukan juga harus yang itu-itu saja. Jika berubah sedikit, dia bisa marah-marah.

Contoh, kalau berbaris mau masuk kelas, dia harus berbaris paling depan, padahal tubuhnya besar. Guru pun akhirnya membolehkan. Mengingat semakin lama tubuhnya semakin besar dan tenaganya bertambah, tentu jika dia marah kami tidak sanggup lagi memeganginya. Akhirnya saya bawa kembali Farhan berkonsultasi dengan terapis.

Terapis menyarankan saya untuk mencari SD yang masih sedikit jumlah muridnya sehingga ia dapat lebih diperhatikan dan ditangani dengan baik. Akhirnya saya menemukan sebuah sekolah umum yang mau menerima Farhan. Lokasinya pun tak jauh dari rumah. Sehabis ikut trial, Farhan mau bersekolah di situ. Setelah memperoleh informasi mengenai kondisi Farhan, pihak sekolah menyarankan Farhan untuk masuk TK di sekolah ini dulu untuk persiapan memasuki SD.

Akhirnya saya masukkan Farhan ke TK selama sekitar 3 bulanan. Hasil tes psikologi beserta laporan evaluasi mengenai kondisi Farhan, menyatakan, andaikata Farhan didiagnosis autisme, dia hanya mempunyai dua ciri saja. Jadi tidak bisa dikatakan autisme. Begitu pun ia tidak bisa dikatakan anak dengan ADHD. Kesimpulannya, Farhan memiliki kematangan jiwa yang kurang dibanding anak-anak usianya. Saat usianya 4 tahun, jiwanya masih setara dengan anak 2-3 tahun. Memang Farhan memiliki emosi yang belum matang, masih seperti anak di bawah usianya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *